Member Login

Lost your password?

Prosedur Pendaftaran Member

  1. Siswa/Orang tua dIsi formulir pendaftaran khusus member
  2. Setelah didaftarkan langsung oleh Admin, silahkan cek email Anda untuk verifikasi data.
  3. Silahkan login ke sistem member tersebut.
  4. Tunggu konfirmasi validasi data Anda melalui email Anda.

Selamat Datang di website kami mari kita jalin silaturahmi bersama  http://hkm-arif.com 
Statistik

Total Hits : 67913
Pengunjung : 26352
Hari ini : 52
Hits hari ini : 181
Member Online : 22
IP : 54.224.202.109
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

mychild_span    hkm.arif@hotmail.com

KEBAJIKAN DALAM PRESFEKTIF Q-S ALBAQARAH :148, ANNHAL:30,THAHA:112 DAN ALA’RAF:58

 

 

  1. I. PENDAHULUAN

 

Islam mengajarkan berbagai macam kebajikan, Kebajikan merupakan perbuatan yang sangat terpuji atau merupakan kearifan atau suatu bentuk kebijaksanaan. Apa yang kita kerjakan sekarang mungkin tidak lagi bisa kita kerjakan 1 menit ataupun 1 tahun yang akan datang.Saat itu anda menyesal mengapa tidak mengerjakannya waktu itu.Tidak ada siapapun yang bisa menolong kita, ketika kita kehilangan kesempatan,

Allah SWT sebagai pencipta dan   seluruh makhluk,  dengan kasih sayangnya memberikan dorongan dan motivasi kepada manusia dalam berperilaku di dunia untuk melakukan kebajikan. Pendapat itu sejauh yang kami ketahui sesuai dengan firman Allah SWT:

Artinya “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.1

Manusia diciptakan Allah berbeda dari makhluk lainnya, yaitu diberinya akal fikiran. Hal ini menunjukan  agar manusia mau berfikir sehingga memudahkannya dalam menentukan perbuatan,  dengan akal, manusia dapat memilih untuk berbuat baik dan taat pada Tuhannya.

 
   

1 QS.AlBaqarah :148

Dengan demikian akal lah yang membimbing manusia dalam kehidupan untuk mengetahui sisi baik atau sisi buruk pada setiap perbuatan. Jika seseorang mengetahui sisi baik perbuatan baik artinya ia telah mengetahui kebaikan perbuatan tersebut secara pasti, begitupun jika ia mengetahui sisi buruk dalam perbuatan buruk, ia pun mengetahui keburukan dari perbuatan tersebut. oleh karenanya segeralah berlomba dalam melakukkan kebajikan.

II. PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kebajikan

Kebajikan mempunyai arti yang  sempit dan luas. Secara bahasa berasal dari kata bajik dan semakna dengan kata baik, menurut Dendi Sugono, kalau dilihat dari akar kata, kebaikan berasal dari kata baik, kebaikan berarti sifat baik: tidak akan aku lupakan…..sedangkan kebajikan asal dari kata bajik, yaitu sesuatu yang mendatangkan keselamatan, keuntungan dsb2.

Poerdarmita mendefiniskan kebajikan berasal dari kata Bajik adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan (keselamatan, keberuntungan, kesenangan dsb) sedangkan kebajikan yaitu perbutan baik. Kebaikan adalah kita wajib berbuat baik kepada sesama manusia.3

Dalam Al-Quran, diantaranya Surat alBaqarah ayat 148 dan alNahl ayat 30 Kebaikan disebut dengan al-khair, sedangkan dalam surat Thaha :112 disebut Amal Shalih dan dalam Surat alBaqarah ayat 177 dan Surat Ali Imron ayat 92 disebut al-birr (kebajikan).

B. Kebajikan Dalam Presfektif QS. Al-Baqarah Ayat 148

Dengan kasih sayangnya Allah SWT memberikan dorongan dan motivasi kepada manusia dalam berperilaku di dunia untuk melakukan kebajikan, Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-Baqarah 148:

Artinya “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Dari  ayat di atas kata al-khair ‘kebaikan’ yaitu satu bentuk perbuatan baik. Ada pula kata al-birr ‘kebajikan’ yang merupakan himpunan atau kumpulan al-khair ‘kebaikan’. Jadi kebajikan adalah tashawwur “persepsi atau pandangan hidup”, perasaan, amal dan perilaku.4                                                               

2 Kamus pelajar, pusat bahasa Depdiknas(Jakarta2003)hal 40

3 Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua,cet kesembilan (Jakarta: Balai Pustaka 1997) hal 75

4 Sayyid Quthb,Tafsir Fi Zhilalil Qur,an“di bawah naungan al-Qur,an”jillid 1, (Jakarta:Gema Insani Press:2000) hal 283

Menurut pendapat Mujahid bahwa kebaikan itu adalah apa yang ditetapkan di dalam hati berupa ketaatan kepada Allah. Dan Adh-Dhahhak mengatakan mengenai kebaktian dan ketakwaan adalah pelaksanaan semua kewajiban menurut semestinya.5

Mengenai tafsir ayat ini, Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abas bahwasanya tiap-tiap pemeluk suatu agama ada kiblatnya sendiri. Namun orang yang beriman tujuan atau kiblatnya hanya satu, yaitu mendapat ridha Allah6. Kiblat bukanlah pokok, bagi Allah SWT timur dan barat adalah sama, yang pokok ialah menghadapkan hati langsung kepada Allah. Itulah  wijhah atau tujuan yang sebenarnya. Dalam agama tidak ada paksaan. Hanya berlombalah berbuat kebajikan, sama-sama beramal dan membuat jasa dalam kehidupan ini. Kalau manusia dipanggil menghadap kepada Allah, dipertanggung jawabkanlah amalan yang telah dikerjakan di dunia. Ayat ini adalah seruan merata; seruan damai ke dalam masyarakat manusia berbagai agama. Bukan khusus kepada umat Muhammad saja.

Jadi mengenai arah atau kiblat bukanlah soal penting dalam agama, tetapi yang penting ialah kebaikan amalnya. Dalam ayat ini pula mengandung janji kebaikan bagi orang yang taat dan ancaman siksa bagi orang yang maksiat. Kemudian Allah menegaskan tidak sulit baginya untuk menghimpun kembali semua manusia pada hari pembalasan nanti.7

Perintah berpacu berbuat kebaikan disini dikemukakan secara mujmal yang akan diperinci oleh keterangan bermacam-macam kebaktian yang tercantum  dalam Q-S al-Baqarah ayat 177.8

 

5 Dr.Abdullah bin Muhamad,Tafsir Ibnu Katsir, terjemahan Abdul Ghaffar, jilid 1 (Bogor: Pustaka imam asyafi’i:2001)hal 330

6 Prof.Dr.Hamka,Tafsir Al-Azhar,juz II, (Jakarta:PT Pustaka Panjmas: 1984) hal 14.

7 Syekh Ahmad Musthafa Al-Marogi,Tarjamah Tafsir Al-Maroghi,juz 2 (Yogyakarta: Sumber Ilmu:1986)hal 17.

8 Ibid. Hal 16

Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

Artinya” Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim bin Maimun telah menceritakan kepada kami Ibnu Muhdi dari Muawiyah bin Sholih dari Abdurrahman bin Jabir bin nafir dari ayahnya dari Nuwas bin Sam’an Alansori telah berkata: saya telah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebajikan dan dosa, maka Nabi menjawab: kebaikan adalah tingkah laku baik dan dosa adalah sesuatu yang diragu-ragukan didalam dadamu.9

 

C. Pokok-Pokok Kebajikan dalam Q.S Al-Baqarah 177.

Allah meletakkan pokok-pokok gambaran iman yang benar, kaidah-kaidah moralitas imani yang benar dan sifat-sifat orang yang beriman dan bertakwa. Karenanya Allah menghimpun al-khair ‘kebaikan’ dalam al-birr ‘kebajikan’ untuk menjadi nilai ukuran dan timbangan orang-orang yang beriman dan bertakwa.

Artinya:Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. AlBaqarah: 177)

 

9 Imam Muslim, Shohih Muslim, Jilid II, tt, hal:421

Ayat ini mencakup sendi-sendi yang agung dan akidah yang lurus. Penafsiran ayat ini adalah ketika pertama kali Allah memerintahkan oranng-orang mukmin menghadap Baitul Maqdis dan setelah itu Dia mengalihkan Ka’bah, sebagian Ahlul Kitab dan kaum muslimin merasa keberatan, maka Allah memberikan penjelasan mengenai hikmah pengalihan kiblat tersebut agar taat kepada Allah, patuh pada semua perintah-Nya, menghadap kemana saja yang diperintahkan dan mengikuti apa yang telah disyari’atkan. Inilah yang disebut dengan kebaikan, ketakwaan dan kesempurnaan iman.10

Imam ats-Tsauri mengemukakan, orang yang memiliki sifat yang disebutkan dalam ayat ini berarti ia telah masuk ke seluruh wilayah Islam dan mengambil segala bentuk kebaikan.11 Adapun bentuk-bentuk kebaikan tersebut adalah :

  1. Keimanan
  2. Kemanusiaan dalam kelompk manusia
  3. Mendirikan shalat
  4. Mengeluarkan zakat
  5. Akhlak terpuji

Dalam konteks lain kebajikan lebih identik dengan amal shaleh, pendapat itu sejauh yang kami ketahui sesuai dengan Firman Allah SWT dalam QS al-Baqarah ayat 148:

Artinya:”Dan barang siapa yang mengerjakan amal-amal shaleh dan ia dalam keadaan beriman, maka ia tidak khawatir akan perlakuan yang tidak adil (terhadapnya) dan tidak (pula)akan pengurangan haknya”.

10 Ibid, hal 329

11 ibid, hal 330

Di dalam ayat ini Allah SWT mengingatkan bahwasanya orang yang dimasa hidupnya didunia mengamalkan amalan-amalan yang shaleh, yaitu perbuatan-perbuatan dan usaha yang baik yang di sukai oleh Allah dan sesamanya manusia, sedang amalannya itu timbul dari sebab imannya kepada Tuhan, bukan beramal yang pada kulitnya kelihatan baik, padahal pada bathinnya bukan dari karena iman kepada Allah, maka orang yang beramal dari sebab beriman, tidaklah dia akan merrasa takut, atau tidak usah merasa cemas, takut dan bimbang bahwa dia akan teraniaya, karena Tuhan tidak pernah berlaku aniaya kepada hamba-Nya. Demikian juga haknya tidak akan ditelan atau akan dicurangi, kebajikan yang di perbuatnya tidak akan di lupakan, dalam surat Al-Zilzalah:7-8 Allah sudah menjelaskan :

“Barang siapa yang beramal, walau sebesar dzarrah dari kebajikan, pastilah akan dilihatnya. Dan barang siapa yang beramal walau sebesar dzarrah pastilah akan dilihatnya”. Itulah hakekat keadilan Ilahy. 11

Betapa pentingnya kesalehan individual dan sosial dalam ajaran islam, sehingga keduanya di pandang sebagai satu kesatuan yang tidak boleh di pisahkan. Begitu banyak ayat al-qur’an yang menunjukan betapa urgennya dua kesalehan ini. Hal ini  setidaknya diisyaratkan berulangnya kata amanu yang selalu digandengkan dengan kata amilu as-shalihat tidak kurang 52 kali.12 Seyogyanya dua jenis kesalehan tersebut, dilakukan secara seimbang dan beriringan.

Menurut Iman Khomeini yang dikutif oleh Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa dalam suatu ayat al-Qur’an yang berbicara tentang kesalehan individuak maka ada seratus ayat social yang turut menyertainya. 13

11 Prof.Dr.Hamka,Tafsir Al-Azhar,juz 16, (Jakarta:PT Pustaka Panjmas: 1984) hal 227

12 Syahril Harahap, Islam Dinamis,{yogyakarta:Tiara Wacana:1997)hal 74

13 Islam Alternatif (Bandung: Mizan:1998) hal 329

D. Balasan Bagi Pelaku Kebajikan dalam Persfektif  Q.S al-Nahlt:30

dan al-Araf:59

Artinya: Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa:”apakah yang telah diturnkan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab: “(Allah telah menurunkan) kebaikan”.Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampun akherat lebih baik itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.(QS.al-Nahl ayat 30)

Allah SWT menggambarkan keadaan orang-orang mukmin apabila ditanya kepada mereka bagaimana kesannya terhadap orang-orang yang mematuhi ayat-ayat Allah itu akan memberikan jawaban bahwa ayat-ayat Allah yang diturunkan adalah kebaikan dan rahmat Allah yang diberikan kepada hambaNya yang mentaati agamanya dan mempercayai RasulNya, serta mengamalkan bimbingan ayat itu di tengah-tengah masyarakat, mereka akan menjadi hamba Allah yang berbuat kebajikan dan menerima kebahagiaan hidupnya. 14

Bagi Pelaku kebaikan di dunia ia akan mendapatkan ganjaran yang kebaikan, sekurangnya nama baik, budi baik yang dikenangkan orang, dan kalau mati meninggalkan kesan yang baik. Di akherat akan mendapatkan kebaikan yang lebih baik dari pada kebaikan dunia sebab di dunia ini, walaupun betapa kita berbuat baik, tidak juga semua manusia akan menyukai ada juga yang dengki. Tetapi di akherat di terima langsung (mutlak) dari Allah, dalam arti kepuasan yang sebenar-benarnya.

Negeri yang dijanjikan di akherat itu adalah “syurga-syurga ‘Adn (Adn) artinya yang kekal, yang mereka akan masuk ke dalamnya mengalir di bawahnya sungai-sungai, untuk mereka ada di dalamnya apa saja yang mereka khendaki. Demikianlah ganjaran Allah atas orang-orang yang bertakawa”Al-Baqarah 31. 15

 

14 AlMaraghi, jilid 5 hal 73

15 Op.Cit Hamka,juzj 14, hal :237

Selanjutnya pada QS Al-A’raf ayat 58 Allah Berfirman:

Artinya: “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, sedang tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulang tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang bersyukur”.

Ayat tersebut memberikan perumpamaan pula dengan tanah yang baik dan subur serta tanah yang buruk dan tidak subur untuk menjelaskan sifat dan tabiat manusia dalam menerima dan menempatkan petunjuk Allah. Orang-orang yang baik sifat dan tabiatnya dapat menerima kebenaran dan memanfaatkannya untuk kemaslahatan masyarakat, sementara orang yang buruk sifat dan tabiatnya tidak mau menerima kebenaran bahkan selalu mengingkarinya sehingga tidak mendapat paedah sedikitpun untuk dirinya dari kebenaran itu apalagi untuk masyarakat.

Berkata  Ibnu Abbas:  ayat ini adalah suatu perumpamaan yang diberikan Allah bagi orang mukmin dan kafir, bagi orang baik dan orang jahat, Allah menyerupakan orang-orang itu dengan tanah yang baik dan yang buruk, dan merupakan turunnya alQur’an dengan turunnya hujan.16

Maka bumi yang baik dengan turunnya hujan dapat mengahsilkan bunga-bunga dan buah-buahan, sedang tanah yang buruk, bila dicurahi hujan tidak dapat menumbuhkan kecuali sedikit sekali. Demikian pula jiwa yang baik dan bersih dari penyakit-penyakit kebodohan dan kemerosotan akhlak, apabila disinari cahaya alQur’an jadilah dia jiwa yang patuh dan taat serta berbudi pekerti yang mulia.

Adapun jiwa yangng jahat dan kotor apabial disinari oleh alQur’an jarang sekali yang menjadi baik dan berbudi mulia.

16 Syekh Ahmad Musthafa Al-Marogi,Tarjamah Tafsir Al-Maroghi,juz 8 (Yogyakarta: Sumber Ilmu:1986)hal 452.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Bukhori dan Muslim, dan Nasa’i  dari hadits Abu musa alasyari, Dia berkaat: Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaan ilmu dan petunjuk yang aku diutus untuk menyampaikannya adalah seperti hujan lebat yang menimpa bumi. Maka ada diantara tanah itu yang bersih(subur) dan dapat menerima hujan itu, lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Tetapi diantaranya ada tanah yang lekang yang tidak meresapi air hujan itu dan tidak menumbuhkan sesuatu apapun.17

7 Ibid.

II. KESIMPULAN

Manusia diciptakan Allah berbeda dari makhluk lainnya, yaitu diberinya akal fikiran. Hal ini menunjukan  agar manusia mau berfikir sehingga memudahkannya dalam menentukan perbuatan,  dengan akal, manusia dapat memilih untuk berbuat baik dan taat pada Tuhannya.

Kebajiakan merupakan perbuatan-perbuatan dan usaha yang baik yang di sukai oleh Allah dan sesamanya manusia, diantara bentuk kebajikan adalah:

1. Keimanan

2. Kemanusiaan dalam kelompk manusia

3. Mendirikan shalat

4. Mengeluarkan zakat

5. Akhlak terpuji

Kebahagian akan di dapatkan di dunia dan akherat,dan Kebajikan yang mutlak akan di perolehnya di akherat kelak oleh orang-orang yang melaksanakan kebajikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an dan tarjamahnya, cet 9, Departemen Agama RI, Jakarta, 2009
  2. Dr.Abdullah bin Muhammad, Tafsir Ibnu Katsir , tarjamahan Abdul Ghaffar,Pustaka Imam asy-syafi’i, Bogor 2001
  3. Sayyid Quthb, Tafsir Fi Dhilalil Qur’an, Gema Insani press, Jakarta 2000
  4. Syekh Ahmad Musthafa Al-Maragi, Tarjamah Tafsir AlMaragi, Sumber Ilmu, Yogyakarta 1986
  5. Prof.Dr.Hamka, Tafsir Al-Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta,1984
  6. Imam Muslim,  Shohih Muslim
  7. Jalaluddin Rahmat, Islam Alternatif, mizan, Bandung, 1998
  8. Syahril Harahap, Islam Dinamis, Tiara Wacana, Yogyakarta, 1997
  9. W.J.S, Poerdarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi kedua, cet 9, Balai Pustaka, Jakarta,1997
  10. Dandy sugono, Kamus Pelajar, Pusat Bahasa Depdiknas, Jakarta,2003

 

 

sumber : http://abduazis.wordpress.com/2010/05/31/kebajikan-dalam-presfektif-q-s-albaqarah-148-annhal30thaha112-dan-alaraf58/